
DALAM jagat pewayangan selalu penuh simbolisasi yang abstrak: “sebuah substansi ide tentang manusia”. Konon, dalam Epos Bharatayuda, Yudhistira menolak berbohong. Tapi oleh bujukan Sri Kresna, ia bersedia –meski penuh ragu—untuk mengatakan dengan suara dipelankan atas kematian gajah Estitama biar terkesan seperti Aswatama, putra tersayang Resi Dorna, yang mati. Tetapi lihatlah, sementara ia mengucapkan kalimat itu,...