100100 Voting: 999,879,658

Brongkos (bebek) Bakar, Alternatif Baru Menikmati Daging Bebek

Menu brongkos mungkin sudah sering anda dengar, namun, brongkos yang satu ini tergolong baru dan sangat unik.  Namanya,  brongkos bakar. Menu baru khas Tempel, Sleman, DIY  ini, menyajikan menu yang menggabungkan nikmatnya brongkos dan renyahnya bebek bakar.  Nah,  bagi anda penggemar menu bebek,  makanan baru ini mungkin bisa menjadi alternatif cara lain menikmati daging bebek.

Sejak berpuluh tahun lalu,  menu brongkos memang sudah menjadi salah satu menu khas Tempel, Sleman,  DIY.  Karenanya,  setiap berkunjung ke wilayah kota budaya ini, para wisatawan pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencoba menikmati menu kuah daging dan kacang tolo ini, dengan mengunjungi sejumlah warung makan yang tersebar di kawasan perbatasan DIY-Jawa Tengah tersebut.

Namun, jika anda mengunjungi sebuah warung di belakang pasar Tempel, bernama “MR LAUK PAUK” ini,  anda akan disajikan menu brongkos yang lain dari biasanya.  Yaitu,  brongkos bakar.  Pemilik warung, Agus Wijayanto, berbeda dengan brongkos biasa yang dibuat dari daging sapi, brongkos bakar ini menggunakan bahan utama daging bebek.  Setelah dimasak brongkos seperti biasanya, daging bebek pun dibakar,  sambil sesekali dilumuri kuah brongkos.  Cara pembakaran inilah yang membedakan dengan bebek bakar biasa, karena, biasanya,  hanya dilumuri kecap. Setelah matang, daging bebek ini pun kembali dilumuri kuah brongkos, sebelum disajikan.

Selain aneka lalapan, sebagai pelengkap hidangan pun disajikan sambal kecombrang.  Yaitu, sambal dengan campuran bunga kecombrang, jenis bunga yang memang biasa digunakan sebagai lalapan. Tak ayal, sensasi rasa yang dihasilkan pun terasa sangat nikmat dan gurih, sekaligus menghangatkan badan. “Ada rasa tersendiri, lebih nikmat.  Gurihnya pas. Pokoknya mantap,” kata Hartono, seorang penggemar brongkos bakar, saat ditemui sedang menikmati menu baru ini.

Dengan harga yang ditawarkan hanya Rp. 15 ribu per porsi, menu baru ini ternyata langsung disambut antusias masyarakat, karena, bisa menjadi alternatif cara lain menikmati daging bebek. Sekaligus untuk mengobati kejenuhan mereka akan menu brongkos yang hanya itu-itu saja.  Nah, anda penasaran? (BK/ YO WiS)
Read More..

Festival Seni Tradisional Islami Digelar Pertama Kalinya di Sleman


 Sebuah festival seni tradisional Islami untuk pertama kalinya digelar di Sleman, DIY (5-6/7). Kegiatan, yang digelar di gedung Serba Guna Sleman ini sekaligus dilakukan untuk membangkitkan kembali seni-seni tradisional Islami di wilayah tersebut, setelah sempat tenggelam, akibat bencana erupsi Merapi 2010 lalu.


Festival Seni Tradisional Islami yang digagas oleh Kantor Kementrian Agama Sleman ini merupakan pertama kalinya digelar di wilayah tersebut. Namun, meski baru pertama kali digelar, tak kurang dari 52 kelompok seni tradisional islam dari berbagai kecamatan di Sleman, turut ambil bagian dalam festival ini.

Mereka diminta membawakan satu lagu wajib dan satu lagu pilihan, dengan iringan musik rebana, disertai kreasi lain agar penampilannya lebih menarik. Tak ayal, sejumlah kelompok peserta pun terlihat menyertakan atraksi tari dan atribut-atribut lain, dalam penampilannya, sehingga, mengundang decak kagum para pengunjung di gedung serba guna sleman ini.

“Festival seni tradisional Islami ini digelar sebagai upaya membangkitkan kembali seni-seni tradisional Islami yang selama ini berkembang pesat di Sleman,” ungkap Hj Silvia Rosetti, ketua penyelenggara festival ini. Menyusul bencana erupsi merapi 2010, sebagaimana sendi kehidupan masyarakat lain di sleman, kegiatan seni tradisional Islami di wilayah tersebut ternyata juga ikut terhenti. Padahal, seni tradisional semacam ini sudah hidup selama puluhan tahun dan mengandung nilai-nilai syiar islam bagi masyarakat.

Selain piala bergilir dari kepala Kantor Kementrian Agama Sleman dan piala tetap lainnya, juga disediakan uang pembinaan hingga jutaan rupiah bagi para penampil terbaik. Karena mendapat tanggapan positif dari kelompok-kelompok seni tradisional Islam di wilayah tersebut, rencananya, festival serupa akan digelar secara rutin setiap tahun.  (*)
Read More..

Menikmati Menu Ala Pengungsi Merapi di Resto Kinahrejo


Anda ingin menikmati menu makanan ala dapur umum pengungsi merapi, seperti, nasi gotong royong, nasi goreng vulkanik atau soto awan panas?. Tampaknya, Resto Kinahrejo di lereng Gunung Merapi, Sleman, DIY, ini bisa menjadi alternatif tujuan anda. 


Awalnya, resto ini hanyalah dapur umum untuk pengungsi merapi. namun, oleh warga, kemudian dikembangkan sebagai usaha bersama untuk membangkitkan perekonomian warga setelah terkena bencana erupsi merapi 2010 lalu.

Meski bernama resto, jangan anda bayangkan ini adalah sebuah tempat makan yang sangat mewah. Resto Kinahrejo, di dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, hanyalah sebuah lokasi makan sederhana, yang berawal dari kegiatan dapur umum untuk pengungsi merapi 2010 lalu.


Karenanya, saat memasuki resto ini, kita disajikan daftar sejumlah menu, yang tergolong unik. Seperti, nasi goreng vulkanik, mie rebus sapu jagad, soto awan panas, ayam bukit kendil, nasi gotong royong, atau minuman seperti, kopi susu kali opak, kopi areng merapi, wedang gedhang, atau es teh kali cemoro.

Menu-menu inilah yang sebelumnya banyak disajikan pada para pengungsi merapi, di tengah keterbatasan bahan makanan, saat terkena bencana merapi beberapa waktu lalu. Karena berawal dari dapur umum, “Resto ini bukanlah milik perseorangan, namun, dikelola bersama-sama oleh paguyuban warga, sebagai upaya membangkitkan perekonomian setelah sempat terpuruk akibat bencana merapi 2010,” kata Purwanti, salah seorang pengelola resto ini.

Meski namanya berbeda, dari sisi sajian memang terlihat tidak ada perbedaan dengan menu makanan sejenis lainnya. Nasi goreng vulkanik tak beda dengan nasi goreng ayam plus telur. Begitupun dengan menu-menu lainnya. Perbedaannya, berbagai makanan ini dibuat dengan bahan-bahan seadanya, di tengah keterbatasan wilayah setempat akibat bencana merapi, sehingga memerlukan ketrampilan lebih dalam meramunya. Namun, jangan salah, meski dibuat dengan bahan seadanya, rasanya tetap enak dan lezat. “Dan yang pasti, harga yang ditawarkan pun cukup murah,” kata Sri Rejeki, pengunjung asal Condongcatur, Depok, Sleman.

Tak hanya makanan yang enak dan murah, di resto yang tak jauh dari rumah mendiang juru kunci merapi Mbah Maridjan ini, para pengunjung juga bisa menikmati panorama gunung merapi dengan lebih jelas dan indah. Juga berbagai sisa-sisa alat dapur yang rusak akibat terkena bencana merapi, serta memberikan semangat pada warga setempat, melalui sebuah papan pesan yang dipasang. Nah, anda berminat?.(*)
Read More..

Labuhan Merapi Pertama Pasca Erupsi 2010

Meski lokasinya dipindah akibat bencana Merapi 2010, prosesi labuhan Merapi di alas Bedengan, Sleman, DIY, Minggu siang (3/7), tetap berjalan khitmad. Ribuan warga memadati ritual, yang dipimpin juru kunci merapi, Mas Lurah Surakso Sihono, untuk mendapatkan berkah dari prosesi ini. Ini adalah Labuhan Merapi pertama pasca bencana erupsi besar 2010 lalu. Juga pertama kali dipimpin juru kunci Merapi baru, putra mendiang mbah Maridjan.

Setelah disemayamkan selama satu malam, uba rampe labuhan dari Kraton Yogyakarta, sekitar pukul 06.08 wib, mulai dikeluarkan dari rumah juru kunci merapi yang baru, Mas Lurah Surakso Sihono atau Pak Asih, di hunian sementara Plosokerep, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Selanjutnya, uba rampe yang terdiri dari dua bagian tersebut dibawa ke tanah lapang setempat, untuk diberangkatkan ke lokasi labuhan.

Uba rampe bagian pertama yang dikemas dalam sebuah kotak kayu, berisi aneka kain, seperti sinjang cangkring, sinjang kawung, dara muluk, dan sebagainya, serta minyak konyo, ses wangen atau rokok linthingan dan yatri tindih atau sesajen. Sementara bagian kedua, berisi dua buah apem mustoko yang ditutup kain putih.

Setelah dibawa dengan menggunakan kendaraan, sesampai di dusun Ngrangkah, Umbulharjo, uba rampe labuhan selanjutnya dibawa dengan berjalan kaki menuju alas Bedengan, sejauh 1, 5 kilometer dari lokasi ini. Meski tidak terlalu jauh, perjalanan ke lokasi memakan waktu tak kurang dari satu jam, karena, medannya cukup berat dan menanjak.

“Lokasi labuhan di alas Bedengan ini memang berbeda dengan biasanya, karena, lokasi biasanya yaitu Puncak Sri Manganti, rusak parah akibat bencana merapi. apalagi jalan menuju lokasi tersebut pun tak bisa lagi dilalui,” Kata Mas Lurah Surakso Sihono. Karenanya, lokasi labuhan kali ini dipindahkan ke lokasi lain yang lebih memungkinkan, yaitu di alas Bedengan, yang berada 1,5 kilometer di bawah Puncak Sri Mangati.


Sesampai di alas Bedengan, juru kunci merapi, Mas Lurah Surakso Sihono pun langsung memimpin ritual, yang diawali dengan menggelar berbagai uba rampe labuhan. Selanjutnya, dipanjatkan doa keselamatan pada Tuhan yang Maha Esa melalui para penjaga gunung merapi, yaitu Empu Rama, Empu Ramadi, Gusti Panembahan Sapu Jagad, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin dan Mbok Ageng Lambang Sari. Acara diakhiri dengan pembagian ubarampe labuhan pada masyarakat, sebagai wujud syukur kraton Yogyakarta. Ribuan orang terlihat memadati lokasi labuhan Merapi ini dan berharap bisa mendapatkan berkah. (*)
Read More..

Pameran Grafis Irwan Lentho

Dalam dunia seni rupa, dikenal istilah xylography, yakni sejenis teknik seni grafis yang terbilang lama telah ditekuni oleh para seniman. Teknik grafis ini (seni cukil) mendayagunakan gambar yang dipahat pada permukaan papan kayu atau, yang pada masa kini, hardboard, di mana bagian yang akan dicetak diupayakan tetap sejajar dengan permukaan papan, sementara bagian yang tak dicetak sengaja dicukil atau dipahat dengan alat tatah tertentu. 


Bagian yang dicukil tersebut akan menghasilkan gambar putih atau warna lainnya yang selaras dengan warna kanvas pilihan. Sedangkan bagian yang tidak dicukil, sejajar dengan permukaan aslinya, hasilnya akan menjadi hitam, atau sesuai warna pilihan. Tahap berikutnya adalah mencetak gambar-gambar tersebut dalam kanvas dengan warna serta kombinasi teknik pointilis dan stensil. Bagi Irwanto Lentho, cukil kayu menjadi media yang mendorongnya untuk bereksperimen dengan teknik-teknik dan berekspresi dengan bentuk estetika yang khas.

Sebagai kreator, Irwanto Lentho kelahiran Sukoharjo, 4 April 1979, dikenal sebagai seniman Sang Pencukil yang kuasa menggarap garis-garis secara cermat dan rinci, memenuhi permukaan kanvas dengan warna-warna indah dan riang. Peraih beberapa penghargaan antara lain Finalis Philip Moris Art Awards 2001, Finalis Trienal Seni Grafis II Indonesia 2006, Karya Terbaik ke-2 Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009, nominasi Indonesia Art Award 2010, mengaku menekuni seni cukil ini lantaran penuh tantangan, di mana kerap terekspresikan hal-hal yang tak terduga serta penuh kejutan.


Acara :

Waktu
12 Juli · 19:00 - 21:00

Tempat
Balai Soedjatmoko
Jl Slamet Riyadi 284 Solo
Read More..

Pemutaran Film-Film Dustin Hoffman

Balai Soedjatmoko akan memutar film-film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman. Lahir di Los Angeles tahun 1937 Dustin Hoffman merupakan aktor yang memiliki peran watak tersendiri. Mendapatkan dua penghargaan Oscar dalam film Kramer vs Kramer, dan Rain Man.


Sebelum menjadi aktor film, Hoffman memulai karir dari pemain drama, baru pada tahun 1967 dia memulai debut di film The Tiger Make Out. Selain main film, Hoffman juga menjadi pengisi suara untuk film-film kartun seperti Kungfu Panda dan Kungfu Panda 2.

Untuk pemutaran kali ini ada dua film yang akan ditayangkan yaitu Tootsie, yang bercerita tentang seorang aktor yang terpaksa mencari nafkah dengan menyamar sebagai perempuan. Dalam film ini Hoffman bermain dengan Jessica Lange. Sedangkan film kedua yaitu All The President’s Men yang merupakan kisah nyata wartawan Bob Woodward yang bekerja di Washington Post. All The President’s Men bercerita pembongkaran skandal Watergate oleh Bob Woodward & Carl Bernstein.

Acara digelar tanggal  06 Juli · 19:00 - 21:00, di
Balai Soedjatmoko
Jl Slamet Riyadi 284 Solo
Read More..

Gelar Seni TBY Edisi Juli 2011

Gelar Seni TBY, Minggu, 31 Juli 2011
berlangsung di halaman Taman Budaya


Pukul 10.30-11.00 l Tari Klasik, Kelompok Seni Swagayogama (UGM)
Pukul 11.00-11.45 l Tari Kreasi Baru, Sanggar Tari Natya Laksita
Pukul 12.30-14.30 l Kesenian Reog, Grub Amarta Singo Mudha
Pukul 15.30-17.00 l Wayang Boneka, Sanggar Bagong Sebardjo

~~ GRATIS & TERBUKA UNTUK UMUM
Read More..
 
© 2012 World Spy
Is Hosted by Blogger